Oleh: M. Miftah, M.Pd.*)
BPM Semarang – Pustekkom – Depdiknas

ABSTRAK: Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Pengertian tersebut mengidentifikasikan kepada kita bahwa yang termasuk unsur-unsur komunikasi adalah komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek.
Komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung amat efektif, baik antara pengajar dengan pelajar maupun diantara para pelajar sendiri sebab mekanismenya memungkinkan sipelajar terbiasa mengemukakan pendapat secara argumentatif dan mengkaji dirinya, apakah yang telah diketahuinya itu benar atau tidak. Agar jalannya komunikasi berkualitas, maka diperlukan suatu pendekatan komunikasi yaitu; pendekatan secara ontologis (apa itu komunikasi), tetapi juga secara aksiologis (bagaimana berlangsungnya komunikasi yang efektif) dan secara epistemologis (untuk apa komunikasi itu dilaksanakan).

Hal – hal penting yang perlu diperhatikan saat proses informasi untuk komunikasi dalam pembelajaran, antara lain: (1) hal yang akan disampaikan sampai kepada penerima tanpa ada pembiasan isi (subject = outcome), (2) hal yang akan disampaikan setingkat dengan kemampuan siswa dalam menelaah (tingkat intelegensi siswa, pengalaman-pengalaman yang pernah didapat), (3) siswa terikat secara aktif dalam proses belajar dengan cara menghubungkan apa yang mereka dapat sebelumnya dengan hal baru yang akan disampaikan, (4) siswa diminta menunjukkan kemajuan sehingga pencapaiannya dapat dianalisis, umpan balik mendapat respon sehingga terlihat jelas sukses dalam usahanya, dan (5) siswa diberi waktu luang yang cukup untuk berlatih dengan kondisi beragam untuk meyakinkan proses retensi dan tranfer yang sedang terjadi.
Kata Kunci: Komunikasi Efektif, Pembelajaran

Perkembangan pesat terjadi di dunia teknologi, bermacam-macam teknologi telah diciptakan untuk tujuan mempermudah urusan manusia yang semakin hari semakin komplek saja. Perkembangan seperti ini terutama terjadi pada dunia teknologi komunikasi. Tanpa disadari bagi mereka yang kurang tanggap perkembangan ini tak pelak mereka akan ketinggalan semakin jauh saja.
Terlepas dari semua perkembangan teknologi komunikasi yang dari hari ke hari semakin menggila, tidak salah bila kita berusaha mereview apa hakekat dari komunikasi. Tinjauan ini akan sangat berharga bagi kita untuk membangun pemahaman yang lebih utuh tentang komunikasi kita semua tentunya tidak akan bisa membayangkan bagaimana kehidupan ini tanpa adanya komunikasi. Bagaimana kehidupan ini akan berlangsung dan berkembang tanpa adanya interaksi dari para penghuninya.
Penulis akan mengulas tentang apa sebenarnya komunikasi itu, apa saja unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk terjadinya sebuah komunikasi dan peranannya yang dimiliki oleh komunikasi terhadap proses pembelajaran manusia terhadap lingkungan.

Definisi Komunikasi
Ditinjau dari etimologi, komunikasi berasal dari kata communicare yang berarti “membuat sama”. Definisi kontemporer menyatakan bahwa komunikasi berarti “mengirim pesan”. Menurut (Effendy. 2003: 9) istilah komunikasi (communication) berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna.
Berbicara mengenai definisi komunikasi tidak ada definisi yang salah dan benar secara absolute. Namun definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada kalimat “mendiskusikan makna”, ”mengirim pesan” dan ”penyampaian pesan lewat media”. Apapun istilah yang dipakai, secara umum komunikasi mengandung pengertian “memberikan informasi, pesan, atau gagasan pada orang lain dengan maksud agar orang lain tersebut memiliki kesamaan informasi, pesan atau gagasan dengan pengirim pesan.

Konsep Komunikasi
Konsep komunikasi menurut John R. Wenburg, William W. Wilmoth dan Kenneth K Sereno dan Edward M Bodaken terbentuk menjadi 3 tipe: pertama, searah: pemahaman ini bermula dari pemahaman komunikasi yang berorientasi sumber yaitu semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon penerima. Kedua, interaksi: pandangan ini menganggap komunikasi sebagi proses sebab-akibat, aksi-reaksi yang arahannya bergantian. Ketiga, transaksi: konsep ini tidak hanya membatasi unsur sengaja atau tidak sengaja, adanya respon teramati atau tidak teramati namun juga seluruh transaksi perilaku saat berlangsungnya komunikasi yang lebih cenderung pada komunikasi berorientasi penerima. Saat dosen memberi kuliah, komunikasi bukan saja berdasarkan fakta bahwa mahasiswa menafsirkan isi kuliah tetapi juga dosen menafsirkan perilaku anggukan atau kerutan kening mahasiswa.
Jadi, kalau dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Jelas bahwa percakapan antara kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila kedua-duanya, selain mengerti bahasa yang dipergunakan juga mengerti makna dari bahan yang dipercakapkan.
Akan tetapi pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya sangat fundamental, dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informative, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasive, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan melakukan suatu perbuatan atau kegiatan dan lain-lain.
Pentingnya komunikasi bagi kehidupan sosial, budaya, pendidikan dan politik sudah disadari oleh para cendikiawan sejak Aristoteles hanya sekedar berkisar pada retorika dalam lingkungan kecil. Baru pada pertengahan abad ke-20 ketika dunia dirasakan semakin kecil akibat revolusi industri dan revolusi teknoligi elektronik, maka para cedikiawan pada abad sekarang menyadari pentingnya komunikasi ditingkatkan dari pengetahuan (knowledge) menjadi ilmu (science).
Menurut Carl I. Hovland, 1953) ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Definisi ini menunjukkan bahwa yang dijadikan obyek studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap public (public attitude) yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan peranan yang amat penting. Bahkan dalam definisinya secara khusus mengenai pengertian komunikasinya sendiri, Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behavior of other individuals), akan tetapi seseorang akan dapat mengubah sikap pendapat atau perilaku orang lain apabila komuniksinya itu memang komunikatif seperti diuraikan di atas.
Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikutip oleh Harold Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komuniksi adalah menjawab pertanyaan sebagai berikut: What says what in which channel to whom with what effect? (Lasswell. 1972).
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:
- Komunikator (communicator, source, sender)
- Pesan (message)
- Media (channel, media)
- Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient)
- Efek (effect, impact, influence)

Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Lasswell menghendaki agar komunikasi dijadikan objek studi ilmiah, bahkan setiap unsur diteliti secara khusus. Studi mengenai komunikator dinamakan control analysis; penelitian mengenai pers, radio, televisi, film dan media lainnya disebut media analysis; penyelidikan mengenai pesan dinamai content analysis, audience analysis adalah studi khusus tentang komunikan, sedangkan effect analysis merupakan penelitian mengenai efek atau dampak yang ditimbulkan oleh komunikasi. Demikian kelengkapan unsur komunikasi menurut Harold Lasswell yang mutlak harus ada dalam setiap prosesnya.

Proses komunikasi
Philip Kotler dalam bukunya, Marketing Management, berdasarkan paradigma Harold Lasswell menampilkan model proses komunikasi. Model ini secara lebih jelas bisa dilihat dalam gambar berikut:

Unsur-unsur dalam proses komunikasi ini melipuiti:
- Sender: Komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.
- Encoding: Penyandaian, yakni proses pengalihan pikiran ke dalam bentuk lambang.
- Message: Pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.
- Media: Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.
- Decoding: Penguraian sandi, yakni proses di mana komunikan menetapkan makna pada lambang yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.
- Receiver: Komunikan yang menerima pesan dari komunikator.
- Response: Tanggapan, seperangkat reaksi dari komunikan setelah diterpa pesan.
- Feedback: Umpan balik, yakni tanggapan komunikan apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator.
- Noise: Gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.
Model komunikasi di atas menegaskan faktor-faktor kunci dalam komunikasi efektif. Komunikator harus tahu khalayak mana yang akan dijadikannya sasaran dan tanggapan apa yang diinginkannya. Ia harus terampil menyandi pesan dengan memperhitungkan bagaimana komunikan biasanya mengurai sandi pesan. Komunikator harus mengirimkan pesan melalui media yang efisien dalam mencapai khlayak sasaran.
Proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.
Adakalanya seseorang menyampaikan buah pikirannya kepada orang lain tanpa menampakkan perasaan tertentu. Pada saat lain seseorang menyampaikan perasaannya kepada orang lain tanpa pemikiran. Tidak jarang pula seseorang menyampaikan pikirannya disertai perasaan tertentu disadari atau tidak disadari. Komunikasi akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang disadari, sebaiknya komunikasi akan gagal jika sewaktu menyampaikan pikiran, perasaan tidak terkontrol.
Pikiran bersama perasaan yang akan disampaikan kepada orang lain itu oleh Walter Lippman dinamakan picture in our head, dan oleh Walter Hagemann disebut Bewustseinsinhalte. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana caranya agar ”gambaran dalam benak” dan ”isi kesadaran” pada komunikator itu dapat dimengerti, diterima dan bahkan dilakukan oleh komunikan.
Mengenai persoalan tersebut dapat dijelaskan dengan penelaahan terhadap prosesnya. Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder.

1. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu ”menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. Bahwa bahasa yang paling banyak dipergunakan dalam komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu ”menerjemahkan” pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah itu berbentuk idea, informasi atau opini; baik mengenai hal yang kongkrit maupun yang abstrak; bukan saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, melainkan juga yang terjadi pada waktu yang lalu dan masa mendatang. Adalah berkat kemampuan bahasa, maka kita dapat mempelajari ilmu pengetahuan sejak ditampilkan oleh Aristoteles, Plato dan Sokrates; dapat menjadi manusia yang beradab dan berbudaya; dan dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada tahun, dekade, bahkan abad yang akan datang.

2. Proses komunikasi secara sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasi karena komunikan karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan lainnya adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.
Pada umumnya kalau kita berbicara di kalangan masyarakat yang dinakamakan media komuniksi itu adalah media kedua sebagai diterangkan di atas. Jarang sekali orang menganggap bahasa sebagai media komunikasi. Hal ini disebabkan oleh bahasa sebagai lambang (symbol) beserta isi (content) yakni pikiran dan atau perasaan yang dibawanya menjadi totalitas pesan (message) yang tampak tak dapat dipisahkan. Tidak seperti media dalam bentuk surat, telephon, radio dan lainnya yang jelas tidak selalu digunakan. Tampaknya orang seolah-olah tak mungkin berkomunikasi tanpa bahasa, tetapi orang mungkin dapat berkomunikasi tanpa surat, telephon, televisi atau lainnya.

Tujuan strategi komunikasi
Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.
Demikian pula dengan strategi komunikasi yang merupakan paduan perencanaan komunikasi (communication planning) dengan managemen komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan bisa berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi.
Apakah tujuan sentral strategi komunikasi itu? R Wayne Pace, Brent D. Peterson dan M. Dallas Burnett dalam bukunya, Techniques for Effective Communication, menyatakan bahwa tujuan sentral kegiatan komunikasi terdiri atas tiga tujuan utama, yaitu: (a) to secure understanding,(b)to establish acceptance,(c) to motivate action. Jadi komunikasi menurut Pace, dkk adalah to secure understanding memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterimanya. Andaikata ia sudah dapat mengerti dan menerima, maka penerimaannya itu harus dibina (to establish acceptance). Pada akhirnya kegiatan dimotivasikan (to motivate action) (Pace, 1979).

Pembelajaran sebagai proses komunikasi
Ditinjau dari prosesnya pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan. Lazimnya pada tingkatan bawah dan menengah pengajar itu disebut guru, sedangkan pelajar disebut dengan murid; pada tingkatan tinggi pengajar dinamakan dengan dosen, sedangkan pelajar dinamakan dengan mahasiswa. Pada tingkatan apapun proses komunikasi antara pelajar dan pengajar itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya hanyalah pada jenis pesan serta kualitas yang disampaikan oleh si pengajar kepada di pelajar.

Perbedaan komunikasi dan pendidikan terletak pada tujuannya atau efek yang diharapkan. Ditinjau dari efek yang diharapkan itu, tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan pendidikan sifatnya khusus. Kekhususan inilah yang dalam proses komunikasi melahirkan istilah-istilah khusus seperti penerangan, propaganda, indoktrinasi, agitasi dan pendidikan.

Tujuan pendidikan adalah khas atau khusus, yaitu meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia menguasainya. Jelas perbedaannya dengan tujuan penerangan, propaganda, indoktrinasi dan agitasi sebagaimana disinggung di atas. Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif.
Pada umumnya pendidikan berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka (face to face). Karena kelompoknya relatif kecil. Meskipun komunikasi antara pelajar dan pengajar dalam ruang kelas itu termasuk komunikasi kelompok, sang pelajar sewaktu-waktu bisa mengubahnya menjadi komunikasi antarpersona. Terjadilah komunikasi dua arah atau dialog di mana si pelajar menjadi komunikan dan komunikator, demikian pula sang pengajar. Terjadinya komunikasi dua arah ini ialah apabila para pelajar bersikap responsif, mengetengahkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, diminta atau tidak diminta. Jika si pelajar pasif saja dalam arti kata hanya mendengarkan tanpa ada gairah untuk mengekspresikan suatu pernyataan atau pertanyaan, maka meskipun komunikasi itu bersifat tatap muka, tetap saja berlangsung satu arah dan komunikasi itu tidak efektif.

Jelaslah bahwa dalam usaha membangkitkan daya penalaran dikalangan pelajar, mereka sendiri ikut menentukan keberhasilannya. Mereka perlu sadar akan pentingnya memiliki daya penalaran untuk kepentingan pembinaan personality-nya, kepribadiannya. Dalam pelaksanaannya, mereka harus menggunakan setiap kesempatan yang disediakan. Kalau tidak ada mereka harus mencarinya. para pelajar bukanlah pribadi yang hanya siap untuk digiring-giring atau didorong-dorong. Mereka harus siap untuk berpartisipasi pada tiap kesempatan. Jika tidak ada kesempatan mereka sendiri harus siap membentuk sarananya.

Komunikasi dalam bentuk diskusi dalam proses belajar mengajar berlangsung amat efektif, hal ini disebabkan oleh dua hal:
a. materi yang didiskusikan meningkatkan intelektualitas,
b. komunikasi dalam diskusi bersifat intracommunication dan intercommunication.
Yang dimaksud dengan intracommunication atau intrakomunikasi adalah komunikasi yang terjadi pada diri seseorang. Ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri sebagai persiapan untuk melalukan intercommunication dengan orang lain.

Secara teoritis pada waktu seorang pelajar melakukan intracommunication terjadilah proses yang terdiri atas tiga tahap: (1) persepsi (perception), (2) ideasi (ideation), dan (3) transmisi (tranmission).
Persepsi adalah penginderaan terhadap suatu kesan yang timbul dalam lingkungannya. Penginderaan itu dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasan dan kebutuhan. Kemampuan mempersepsi antara pelajar satu dengan pelajar yang lain tidak akan sama meskipun mereka sama-sama dari sekolah yang sama, bahkan kelas yang sama. Ini ditentukan oleh sipelajar sendiri, ditentukan oleh aktivitas komunikasi, baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Sebagai komunikator, umpamanya ia sering tampil secara aktif sebagai orator, pemimpin diskusi, ketua rapat dan sebagainya. Sebagai komunikan umpamanya, ia banyak membaca buku, surat kabar, majalah mendengarkan radio atau menonton televisi. Pengetahuan dan pengalaman akan memperkaya benaknya dengan perbendaharaan untuk memperkuat daya persepsinya. Semakin sering ia melibatkan diri dalam komunikasi akan semakin kuat daya persepsinya.
Ideasi adalah tahap kedua dalam proses intracommunication. Seorang pelajar dalam benaknya mengonsepsi apa yang dipersepsinya. Ini berarti bahwa dia mengadakan seleksi dari sekian banyak pengetahuan dan pengalamannya yang pernah diperolehnya, mengadakan penataan dengan yang relevan dari hasil persepsinya tadi, siap untuk ditransmisikan secara verbal kepada lawan diskusinya.
Jadi yang ditransmisikan adalah hasil konsepsi karya penalaran sehingga apa yang dilontarkan dari mulutnya adalah pernyataan yang mantap, meyakinkan, sistematis dan logis. Dengan demikian dalam proses intercommunication berikutnya berkat intracommunication yang selalu terlatih, ia akan mengalami keberhasilan.

Komunikasi efektif dalam pembelajaran
Untuk menyamakan makna antara guru/dosen dan siswa ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:
1. Semua komponen dalam komunikasi pembelajaran diusahakan dalam kondisi ideal/baik:
a. pesan (message) harus jelas, sesuai dengan kurikulum, terstruktur secara jelas, menarik dan sesuai dengan tingkat intelejensi siswa.
b. Sumber/guru harus berkompetensi terhadap materi ajar, media yang digunakan, mampu menyandikan dengan jelas, mampu menyampaikan tanpa pembiasan dan menarik perhatian serta mampu membangkitkan motivasi diri dan siswa dalam proses interaksi dan transaksi komunikasi.
c. penerima/siswa harus dalam kondisi yang baik/sehat untuk tercapainya prasyarat pembelajaran yang baik.
d. lingkungan (setting) mampu mendukung penuh proses komunikasi misalnya pencahayaan, kenyamanan ruang dan sebagainya.
e. materi/media software dalam kondisi baik/tidak rusak (sesuai dengan isi/pesan).
f. alat (device) tidak rusak sehingga tidak membiaskan arti (audiovisual). Media yang menarik (dapat dilihat dan didengar) akan memudahkan siswa dalam retensi dan pengingatan kembali pesan yang pernah didapat.
g. teknik/prosedur penggunaan semua komponen pembelajaran harus memiliki instruksi jelas dan terprogram dalam pengelolaan.

2. Proses encoding dan decoding tidak mengalami pembiasan arti/makna.

3. Penganalogian harus dilakukan untuk membantu membangkitkan pengertian baru dengan pengertian lama yang pernah mereka dapat.

4. Meminimalisasi tingkat gangguan (barrier/noise) dalam proses komunikasi mulai dari proses penyandian sumber (semantical), proses penyimbolan dalam software dan hardware (mechanical) dan proses penafsiran penerima (psychological).

5. Feedback dan respons harus ditingkatkan intensitasnya untuk mengukur efektifitas dan efisiensi ketercapaian.

6. Pengulangan (repetition) harus dilakukan secara kontinyu maupun progresif.

7. Evaluasi proses dan hasil harus dilakukan untuk melihat kekurangan dan perbaikan.

8. 4 aspek pendukung dalam komunikasi; fisik, psikologi, sosial dan waktu harus dibentuk dan diselaraskan dengan kondisi komunikasi yang sedang berlangsung agar tidak menghambat proses komunikasi pembelajaran.

Teknologi komunikasi dan pendidikan pasca literer
Pemerintah Indonesia mencanangkan pentingnya pendidikan, tidak hanya pendidikan formal di sekolah-sekolah tetapi juga pendidikan tak formal dalam keluarga. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan perlu dilakukan secara holistik yang meliputi tiga dimensi pendidikan, yakni: (a) pendidikan praliterer, (b) pendidikan literer,dan (c) pendidikan pascaliterer.

Pendidikan praliterer adalah pendidikan yang berlangsung secara tatap muka timbal balik dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itu sifatnya tidak formal. Pendidikan jenis inilah yang pertama-tama berperan mencerdaskan bangsa disuatu negara sebelum pengetahuan tentang tulisan ditemukan.
Di Indonesia pendidikan literer diperkirakan mulai abad pertama masehi dengan merembesnya kebudayaan baca tulis dari Indonesia, sedangkan pendidikan pascaliterer dimulai sesuai perang dunia II untuk lebih tegasnya pada tahun lima puluhan, kendati siaran radio yang merupakan salah satu unsurnya sudah dimulai tahun 1925.

Pada kenyataannya, sungguhpun literasi tumbuh dan berkembang di masyarakat tidak berarti pendidikan dalam keluarga lalu tidak berperan; tetap memegang peranan penting, bahkan setelah digalakkan oleh pendidikan pascaliterer sekalipun.

Betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga di Indonesia telah dibuktikan secara efektif dan heroik oleh bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara. Ketika pada tahun 1932 pemerintah kolonial Hindia Belanda mengeluarkan Wilde Scholen Ordonantie, suatu undang-undang yang mengatur apa yang dinamakannya ”sekolah liar”, yakni sekolah yang dikelola dan diasuh oleh para guru bangsa Indonesia yang tidak sudi bekerja di sekolah-sekolah gubernemen, tampillah Ki hajar bersama barisan guru partikulier dengan semboyan.
”Tiap-tiap rumah jadi perguruan;
Tiap-tiap orang jadi pengajar;
Dengan atau tanpa ordonansi”.
Tekad para pahlawan pendidikan itu sungguh luar biasa dan dalam perjuangan kemerdekaan negara dan bangsa mempunyai arti tersendiri.

Pada abad literasi dan pasca literasi, pendidikan nonformal dalam keluarga-keluarga itu semakin efisien karena para ibu dan bapak lebih meningkatkan pengetahuan menegenai metode mendidik anak yang diperoleh mereka dari berbagai media masa.

Faktor yang menyebabkan fungsi pendidikan dalam keluarga tetap penting, dalam dimensi pascaliterasi sekalipun, dijelaskan oleh Marshall McLuhan kali ini dalam karyanya The new education, yaitu: ”cara seorang anak mempelajari bahasa ibunya adalah dengan menggunakan seluruh gerak, seluruh intonasi, dan seluruh bunyi sebagai suatu pengalaman baru. Baginya ini bukan merupakan suatu segi pengalaman, melainkan suatu totalitas, suatu alat baginya untuk menyelidiki dunia. Ini berarti ia menggunakan seluruh indera seketika dengan melibatkan keseluruhan dirinya kepada situasi sebagai cara belajar” (McLuhan, 1968). Proses belajar yang ampuh seperti itulah yang dapat dijumpai dalam metode pendidikan manapun.

Pembagian dimensi pendidikan menjadi praliterer, literer dan pascaliterer seperti dikatakan di muka, dalam kesinambungannya tidak berlangsung secara tegar (rigid), tetapi komplementer (complementary), yakni saling mengisi dan kompensatori (compensatory), yaitu saling mengimbangi.

Penemuan mesin cetak yang kemudian berkembang sampai dengan sistem ofset yang dengan alat pembuat tata warna dapat menghasilkan karya yang indah meriah tidak menyebabkan tersisihnya fungsi pendidikan dalam keluarga. Dalam pada itu penemuan media elektronik seperti radio, televisi, video dan komputer media yang termasuk ke dalam produk revolusi elektronika tidak meneyebabkan tersisihnya pendidikan literer.

Sifat komplementer dan kompensatori yang melekat pada ketiga dimensi tadi adalah karena masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Dengan demikian, pendidikan non formal dalam keluaraga-keluarga akan efektif jika didukung oleh pendidikan melalui media cetak dan media elektronik.

Pendidikan literer yang berlangsung secara formal di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat terendah sampai tingkat tinggi, akan efisien bila ditopang oleh media aural dan audio visual seperti sound system, audio tape recorder, video cassete recorder, slide projector, overhead projector dan film projector. Dalam pada itu pendidikan pascaliterer antara lain dalam bentuk educational broadcast dan instructional broadcast, baik melalui siaran radio ataupun melalui siaran televisi, berlangsung efektif dan efisien karena ditunjang oleh bahan-bahan literer berupa modul atau paket sebagai pelengkap. Dalam hubungan dengan pasca literasi itu, karena media yang banyak digunakan bersifat audio visual yang buta huruf dapat mengikutinya. John Culkin, S.J. dalam karyanya yang berjudul ”Education in a Post-Literate World” menegaskan bahwa pascaliterasi menggambarkan lingkungan sosial yang baru di mana media cetak akan berinteraksi dengan media komunikasi yang begitu beraneka ragam (Culkin, 1968).

Sikap komplementer dan kompensatori tidak saja antar dimensi praliterasi, literasi dan pascaliterasi, tetapi juga antar segi edukatif, informatif dan rekreatif menuju ke tingkat kognisi dan konasi yang ideal yakni sikap kreatif dan inovatif.

Barangkali bagi para pendidik dan orang tua akan bermanfaat untuk dikaji apa yang dikutip oleh J.A. Battle dalam karyanya ”Education for The World of 1984 and 2000”, mengenai pendapat R. Buckminster Fuller yang dikenal sebagai genius. Fuller mengatakan sebagai berikut: saya yakin bahwa tidak ada manusia yang jenius, baik saya maupun orang lain, pada waktu yang lalu ataupun sekarang. Saya yakin bahwa apa yang secara fisik saya miliki ketika saya dilahirkan, dimiliki juga oleh bayi-bayi lainnya. Pada dasarnya semua bayi pada waktu dilahirkan adalah jenius, tetapi kemudian dalam waktu singkat tidak demikian. Hal ini disebabkan urat syaraf, pernyataan rasa sayang yang salah dan perasaan takut pada anak-anak yang lebih besar; kesemuanya itu cenderung menutup pintu benak para bayi (Battle, 1968).

Ilustrasi tersebut di atas diketengahkan dan dialamatkan kepada para pendidik dan para orang tua, karena mereka inilah yang paling berperan dalam memanusiakan manusia, mencerdaskan putra-putri asuhnya, yang berarti mencerdaskan bangsa. Para guru dan dosen sebagai pendidik bertugas memeberikan pelajaran kepada anak didiknya secara teratur, terorganisasi dan terarah. para orang tua yang juga sebagai pendidik, meskipun tidak formal, bertugas mengasuh putra-putrinya mulai bayi samapai dewasa dengan menciptakan suasana lingkungan keluarga yang menyenangkan, tiada kepicikan, tiada ketegangan surat syaraf, tida pernyataan rasa sayang yang salah, dan tiada perasaan takut pada anak-anak yang lebih besar sebagaimana dikatakan Fuller di atas.

Pelaksanaan tugas para pengajar dan orang tua di atas dengan sendirinya harus berlangsung secara simbiosis yang berarti para orang tua ikut melatih dan mengawasi putra-putrinya dalam hubungannya dengan yang diperolehnya di sekolah. Sebaiknya para pengajar turut menciptakan lingkungan yang menyenangkan yang bebas dari hal-hal negatif.

Produk teknologi komunikasi, terutama media elektronik yang semakin banyak digunakan oleh pemerintah dan semakin memasyarakat harus benar-benar dimanfaatkan oleh semua pihak, dioptimalkan segi positifnya dan diminimalkan kalau tidak mungkin ditiadakan sama sekali segi negatifnya. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bukan tugas pemerintah semata-mata melainkan tugas masyarakat bersama.

Simpulan
Efektifitas sebuah proses komunikasi tergantung pada komponen yang terkait. Semakin baik komponen, gangguan-gangguan akan tereduksi. Feedback dan respon akan lebih mudah dibangkitkan.
Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan satu bentuk komunikasi yang terjalin antara komunikator dalam hal ini pengajar yang menyalurkan pesan berupa materi pengajaran kepada komunikan yaitu pelajar melalui media lisan atau dengan bantuan teknologi komunikasi lain, sebagai akibatnya pelajar tahu materi yang disampaikan dan melaksanakannya dan inilah tujuan utama dari proses belajar mengajar.
Kemampuan/keterampilan guru dalam melakukan kegiatan komunikasi akan mempengaruhi proses yang akhirnya berujung pada hasil. Bukan berarti murid yang cerdas disebabkan oleh kemampuan guru dalam melakukan komunikasi. Setidaknya murid yang kurang pandai mampu menelaah pesan/gagasan yang ditransfer dalam proses komunikasi yang baik oleh seorang guru yang terampil.

Daftar Pustaka

Battle, J.A. (1968). Education for the world of 1984 and 2000 dalam J.A. Battle & Robert Shannon. The new idea in education. New York – London: Harper & Row Publishers.

Brooks, Cleanth dan Warren, Robert Penn, (1972). Modern Rethoric, Shorter Third Edition. New York – Atlanta: Harcourt Brace Javanovich, Inc.

Culkin, S.J. John. (1968). Education in post-literate world dalam J.A. Battle & Robert Shannon. The new idea in education. New York – London: Harper & Row Publishers.

Effendy, Onong Uchjana. (2003). Ilmu komunikasi; Teori dan Praktek. Bandung: Rosda.

Hovland, Carl, L. (1953). Social communication dalam Bernard Berelson & Morris Janowits, ed. Reader in public opinion and communication, New York: The free press of glencoe.

Lasswell, Harold D. (1972). The structure and function of communication in society dalam Wilbur Schramm, ed. Mass communication. Urbana – Chicago: University of Illinois Press.

McLuhan, Marshall. (1968). The new education dalam J.A. Battle & Robert Shannon, The new idea in education. New York – London: harper & Row Publishers.

Pace, R. Wayne et al. (1979). Techniques for effective communication. Masschusetts – Ontario: Addison Westley Publishing Company.

Diambil dari : http://www.mediapendidikan.net