Metode Contextual Teaching and Learning (CTL) yang berusaha mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa tampaknya patut diusung sebagai metode alternatif pendidikan karakter. CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya dalam kehidupan keseharian mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat delapan komponen yang harus terpenuhi sebagai berikut:
• membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna (making meaningful connections),
• melakukan pekerjaan yang berarti (doing significant work),
• melakukan pembelajaran yang diatur sendiri (self regulated learning),
• melakukan kerja sama (collaborating),
• berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking),
• membantu individu untuk tumbuh dan berkembang (nurturing the individual),
• mencapai standar yang tinggi (reaching high standards), dan
• menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment).
Banyak cara efektif untuk mengaitkan pengajaran dan pembelajaran dengan konteks situasi sehari-hari siswa. Setidaknya enam metode berikut ini dapat ditempuh:
• 1) menghubungkan pembahasan konsep nilai-nilai inti etika sebagai landasan karakter dengan keseharian siswa,
• 2) memasukan materi dari bidang lain di dalam kelas,
• 3) dalam mata pelajaran yang tetap terpisah terdapat topik-topik yang saling berhubungan,
• 4) mata pelajaran gabungan yang menyatukan isu-isu moral,
• 5) menggabungkan sekolah dan pekerjaan,
• 6) penerapan nilai-nilai moral yang dipelajari di sekolah ke masyarakat. Dalam catatan Johnson, implementasi dari langkah keenam ini di Tillamook Junior High School menunjukkan bahwa para siswa mempunyai kemampuan luar biasa untuk mencapai standar pendidikan dan standar etika yang tinggi jika mereka melihat mengapa hal yang mereka lakukan itu penting.
Sejalan dengan konsep pendidikan moral Kohlberg bahwa pendidikan karakter harus melibatkan berpikir aktif dalam menghadapi isu-isu moral dan menetapkan suatu keputusan moral. Dalam upaya itu maka penerapan CTL dalam pendidikan karakter menghendaki adanya pembelajaran mandiri dan kerja sama. Pada tahap ini yang dikondisikan untuk dilakukan siswa adalah siswa belajar langsung dengan mencari dan menggabungkan informasi secara aktif dari masyarakat maupun ruang kelas, lalu menggunakannya untuk alasan tertentu. Selanjutnya siswa dirangsang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik seputar karakter. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu siswa untuk menemukan kaitan antara pelajaran di kelas dan situasi yang mereka alami baik di sekolah, di rumah, maupun sebagai anggota masyarakat. Kemudian siswa diberi kesempatan membuat pilihan sendiri dalam menentukan keterlibatan mereka dalam permasalahan karakter yang dipelajari. Dan pada akhirnya siswa mampu membentuk kesadaran diri, yaitu kemampuan merasakan perasaan pada saat perasaan itu muncul.
Pendidikan karakter mensyaratkan adanya kemampuan berpikir kritis untuk mempertimbangkan dan mengambil tindakan moral dalam bentuk karakter-karakter positif siswa. Siswa dilatih untuk bersikap kritis terhadap isu-isu moral yang terjadi dengan mengajukan tiga pertanyaan berikut: prinsip-prinsip apa yang dijadikan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari?, kewajiban apa yang timbul dari hubungan-hubungan siswa dengan yang lain?, apa konsekuensi yang didapatkan dari keputusan dan tindakan yang diambil?. Pertanyaan-pertanyaan ini mengajarkan siswa untuk menunjukkan tanggung jawab moral sebagai anggota masyarakat. Selain itu berpikit kritis seperti ini juga merupakan penjernihan nilai dalam menghadapi berbagai pandangan hidup yang berkembang di masyarakat.
Dalam menguatkan kesadaran berkarakter positif siswa perlu dibawa ke dalam pengalaman hidup bersama orang lain dalam situasi yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-harinya. Dengan pengalaman langsung seperti ini anak dapat mengenal lingkungan hidup yang berbeda dalam cara berpikir, tantangan, permasalahan, termasuk tentang nilai-nilai hidup. Membantu dan melayani anggota panti asuhan misalnya akan memberikan kesan berharga dan kesadaran pentingnya karakter peduli kepada orang lain. Upaya seperti ini disebut metode live in.
Hal terakhir yang sangat mendasar dalam metode pendidikan karakter adalah keteladanan. Tumpuan pendidikan karakter berada pada guru sebagai character educator. Konsistensi dalam mengajarkan pendidikan karakter tidak sekedar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di dalam kelas, melainkan nilai itu juga tampil dalam diri sang guru, dalam kehidupan nyatanya di luar kelas. Karakter guru akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian siswa. Bahkan bukan hanya guru, metode ini mengandaikan semua orang dewasa dalam komponen sekolah seperti kepala sekolah, karyawan, penjaga sekolah, pengurus perpustakaan, petugas kebersihan, dan lain-lain adalah model-model karakter. Melalui metode ini diharapkan siswa menemukan lingkungan nyata di mana nilai-nilai etika dipegang teguh dan karakter tumbuh.

Daiambil dari : http://www.inilahguru.com/2010-11-10-16-44-57/35-pedagogi/167-penerapan-metode-contextual-teaching-and-learning-dalam-pendidikan-karakter.html

About these ads