STRATEGI PEMBELAJARAN

Hakikat Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi dan lingkungan yang akan dihadapinya.
Pemilihan strategi pembelajaran umumnya bertolak dari
a. rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan,
b. analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihasilkan, dan
c. jenis materi pelajaran yang akan dikomunikasikan.
A. Kozma dalam Gafur (1989)
Secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
B. Gerlach dan Ely (1980)
Menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan mated pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud
meliputi sifat, lingkup dan urutan .kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik.
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pelajaran, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dikuasainya diakhir kegiatan belajar.
Hubungan antara strategi, tujuan dan metode pembelajaran
Strategi pembelajaran yang akan dipilih dan digunakan oleh guru bertitik tolak dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan di awal. Agar diperoleh tahapan kegiatan pembelajaran yang berdaya dan berhasil guna, maka guru harus mampu menentukan strategi pembelajaran apa yang akan digunakan. Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah suatu rencana untuk mencapai tujuan.
Perbedaan antara Strategi, Metode dan Teknik
Istilah strategi, metode atau teknik sering digunakan secara bergantian, walaupun pada dasarnya istilah-istilah tersebut memiliki perbe-daan satu dengan yang lain.
Teknik pembelajaran seringkali disamakan artinya dengan metode pembelajaran. Teknik adalah jalan atau alat atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai (Geriach dan Ely, 1980).
Metode Pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tetapi di dalam pelaksanaan sesungguhnya, metode dan teknik memiliki perbedaan. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural yaitu berisi tahapan-tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah cara yang digunakan, yang bersifat implementatif.
Komponen strategi pembelajaran
1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan memegang peranan penting.
2. Penyampaian Informasi
Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan paling penting dalam proses pembelajaran, padahal bagian ini hanya merupakan salah satu komponen dari strategi pembelajaran. Artinya tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik atau dapat memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian informasi ini menjadi tidak berarti.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi adalah urutan, ruang lingkup danjenis materi.
a) Urutan penyampaian
b) Ruang lingkup materi yang disampaikan
c) Materi yang akan disampaikan
Materi pelajaran umumnya merupakan gabungan antara jenis materi yang berbentuk pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat tertentu) dan sikap (berisi pendapat ide, saran atau tanggapan) (Kemp, 1977). Merril (1977, h.37) membedakan isi pelajaran menjadi 4 jenis yaitu fakta, konsep, prosedur dan prinsip.
3. Partisipasi Peserta Didik
Berdasarkan prinsip student centered maka peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar. Dalam masyarakat belajar dikenal istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang diterjemahkan dari’ SAL (Student Active Learning) yang maknanya adalah bahwa proses pembelajaran akan iebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Dick dan Carey, 1978, h 108). Terdapat beberapa hal penting yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik, yaitu:
a. Latihan dan praktek seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu pengetahuan,
sikap atau keterampiian tertentu.
b. Umpan Balik
Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil belajarnya, maka , guru memberikan umpan batik (feedback) terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik yang diberikan oleh guru, peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan itu benar/atau salah, tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
4. Tes
Serangkaian tes umum yang digunakan oleh guru untuk mengetahui
(a) apakah tujan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum, dan
(b) apakah pengetahuan, sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
5. Kegiatan Lanjutan
Kegiatan yang dikenal dengan istilah follow up dari suatu hasil kegiatan yang telah dilakukan seringkali tidak dilaksanakan dengan baik oleh guru. Dalam kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau di atas rata-rata :
a. hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai
b. Peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang
bervariasi tersebut.
Kriteria pemelihan strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu:
1. Berorientasi pada tujuan pembelajaran
2. Pilih teknik pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki saat bekerja nanti
(dihubungkan dengan dunia kerja).
3. Gunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan pada indera peserta didik.
Gerlach dan Ely (1990, him 173) menjelaskan pola umum pemilihan strategi pembelajaran yang akan digambarkan melalui bagan berikut ini: pemilihan strategi pembelajaran yang didasari pada prinsip efisiensi, efektivftas, dan keterlibatan peserta didik.
1. Efisiensi
Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan pemilihan metode yang mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
2. Efektivitas
Pada dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapajauh tujuan pembe¬lajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Perlu diingat bahwa strategi yang paling efisien sekalipun tidak otomatis menjadi strategi yang efektif.
3. Keterlibatan Peserta Didik
Pada dasamya keteriibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tantangan yang dapat membangkitkan motivasinya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran yang besifat inkuiri pada umumnya dapat memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori.
Pendekatan Inovatif dalam Strategi Pembelajaran
Dalam pembelajaran modern sekarang ini yang lebih dipentingkan adalah bagaimana mengaktifkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran secara mandiri, yaitu melalui kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada penemuan (discovery) dan pencarian (inquiry).
Kegiatan pembelajaran melalui pendekatan ini memiliki dampak positif sebagaimana yang dikemukakan oleh Jerome Bruner dalam Hasibuan dan Moejiono (1993) yang mengemukakan bahwa pencarian (inquiry) mengandung makna sebagai berikut:
1.Dapat membangkitkan potensi intelektual siswa karena seseorang hanya dapat belajar dan mengembangkan pikirannya jika ia menggunakan potensi intelektuainya untuk berpikir.
2. Peserta didik yang semula memperoleh extrinsic reward dalam keberhasilan belajar (seperti mendapat nilai baik dari pengajar), dalam pendekatan inkuiri ini dapat memperoleh intrinsic reward. Diyakini bahwa jika seorang peserta didik berhasil mengadakan kegiatan mencari sendiri (mengadakan penelitian), maka is akan memperoleh kepuasan untuk dirinya sendiri.
3. Peserta didik dapat mempelajari heuristik (mengolah pesan atau informasi) dari penemuan (discovery),
artinya bahwa cara untuk mempelajari teknik penemuan ialah dengan jalan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengadakan penelitian sendiri.
4. Dapat menyebabkan ingatan bertahan lama sampai terinternalisasi pada diri peserta didik.
Cara belajar siswa aktif (cbsa)
Tujuannya adalah memperoleh hasil belajar yang berbentuk perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotori (Raka Joni, dalam Tachir, 1988, hal 37-38)
Berikut akan dijelaskan ciri/kadar Cara Belajar Siswa Aktif, dalam proses belajar dan sebagai hasil belajar.
CBSA sebagai proses belajar:
1. Siswa aktif mencari atau memberikan informasi, bertanya bahkan dalam membuat kesimpulan.
2. Adanya interaksi aktif secara instruktur dengan siswa.
3. Adanya kesempatan bagi siswa untuk menilai hasil kerjanya sendiri.
4. Adanya pemanfaatan sumber belajar secara optimal.
CBSA sebagai hasil belajar :
1. Siswa dapat mentransfer kemampuannya kembali (kognitif, afektif clan psikomotorik ).
2. Adanya tindak lanjut berupa keinginan mencari bahan yang telah clan akan dipelajan.
3. Tercapainya tujuan belajar minimal 80%.
Prinsip-prinsip cbsa
1.Mendesain pengajaran yang dapat membuat siswa aktif sepenuhnya dalam proses belajar.
2.Membebaskan siswa dari ketergantungan yang berlebihan pada guru. Hal ini akan berakibat sebagai berikut:
a. Siswa akan terbiasa belajar teratur walaupun tidak ada ulangan/ujian.
b. Siswa mahir/memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada.
c. Siswa terbiasa melakukan sendiri kegiatan belajar baik di laboratorium, bengkel dan lam-lain.
d. Siswa mengerti bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar.
3. Menilai hasil belajar dengan cara berikut, yaitu bahwa setiap hasil pengajaran sarat dengan berbagai macam kegiatan belajar, maka prestasi murid yang tergambar pada kegiatan belajar itu perlu diadakan penilaian dengan ujian lisan, ujian tertulis, tes buku terbuka, tes yang dikerjakan dirumah dan lain-lainnya.
Prinsip-Prinsip Belajar Dalam CBSA
1. Stimulus belajar
Stimulus hendaknya benar-benar mengkomunikasikan informasi atau pesan yang hendak disampaikan oleh guru kepada siswa.
2. Perhatian dan motivasi
Stimulus belajar yang diberikan oleh guru bukan berarti perhatian dan motivasi dari siswa tidak diperlukan lagi.
3. Respon yang dipelajari
Respon siswa terhadap stimulus guru dapat berupa perhatian, proses internal terhadap informasi, ataupun tihdakan nyata dalam bentuk partisipasi dan minat siswa saat mengikuti kegiatan belajar.
4. Penguatan
Setiap tingkah laku yang diikuti perasaan kepuasan terhadap kebutuhan siswa cenderung untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan berasal dari luar dan dari dalam dirinya. Dari luar seperti nilai, ganjaran, hadiah dan lain-lain dari dalam diri bisa terjadi apabila respon yang dilakukan oleh siswa betul-betui memuaskan dirinya dan sesuai dengan kebutuhannya.
5. Pemakaian dan pemindahan
Dalam penyimpanan informasi (yang jumlahnya tidak terbatas) penting sekali dilakukan pengaturan dalam penempatan informasi sehingga dapat digunakan apabila diperlukan kembali. Pengingatan kembali atau informasi yang telah diperoleh cenderung terjadi apabila digunakan dalam situasti serupa.
Prinsip-prinsip CBSA dalam Dimensi Program Pembelajaran
Prinsip-prinsip yang perlu ada pada dimensi program pembelajaran adalah sebagai berikut.
1. Penentuan tujuan dan isi pelajaran
Prinsip ini menuntut agar dalam mengembangkan program pembelajaran hendaknya dilakukan penyesuaian antara tujuan dari isi pembelajaran dengan karakteristik siswa, sehingga dapat memenuhi kebutuhan, minat dan kemampuan siswa.
2. Pengembangan konsep dan aktivitas siswa.
Prinsip ini mempersyaratkan agar program mampu menyajikan alternatif kegiatan yang mengarah pada pengembangan konsep aktifitas belajar siswa.
3. Pemilihan dan penggunaan berbagai metode clan media
Prinsip ini menuntut agar guru mampu memilih dan sekaligus mampu menggunakan berbagai strategi dan metode belajar-mengajar, sehingga dapat menciptakan kondisi belajar yang dapat membelajarkan siswa secara aktifdan penuh makna.
4. Penentuan metode dan media
Prinsip ini mempersyaratkan agar dalam program pembelajaran diberikan altematif metode dan media yang dapat dipilih secara luwes, maksudnya pengembangan program hendaknya mampu memilih metode atau media sebagai alternatif memilih kesetaraan.
Prinsip CBSA Pada Dimensi Situasi Belajar Mengajar
1. Komunikasi yang bersahabat antara guru dan siswa.
2. Kegairahan dan kegembiraan dalam belajar.
Berikut ini akan diuraikan salah satu pendekatan yang berciri khas CBSA, yaitu pendekatan keterampilan proses, pengembangan keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber pada kemampuan peserta didik.
Banyak keaktifan siswa yang sangat sulit untuk diamati, seperti kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah baru adalah merupakan keaktifan siswa yang tidak dapat diamati sebagai suatu bentuk keaktifan. Mungkin siswa-yang bersangkutan hanya diam bahkan kelihatannya mengantuk padahal dia sedang me.ngarahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah. Guru baru dapat mengamatinya apabila siswa itu telah bertindak.
Dengan perkataan lain, keaktifan dalam rangka CBSA menunjuk kepada keaktifan mental, meskipun untuk mencapai maksud ini dipersyaratka keterlibatan langsung berbagai bentuk keaktifan fisik.
Pendekatan Keterampilan Proses
Tugas utama guru adalah menciptakan suasana kelas sedemikian rupa agar terjadi interaksi belajar-mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. CBSA akan berjalan sebagaimana diharapkan apabila dalam prakteknya CBSA mampu mengembangkan keterampilan memproses perolehan.
Jadi apabila keterampilan proses dikaitkan dengan CBSA, maka akan tampak keduanya mempunyai ciri sebagai berikut;
• menekankan pentingnya keberartian belajar untuk mencapai hasil belajar yang memadai;
• menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam proses belajar.
• tenekankan bahwa belajar adalah proses dua arah yang menekankan hasil belajar secara tuntas.
Mengapa keterampilan proses diperlukan?
Dalam proses belajar-mengajar, pengembangan konsep harus dipadukan dengan pengem¬bangan nilai dalam diri anak didik. Tujuannya adalah menghasilkan manusia yang ahli sekaligus manusiawi. Artinya, lulusan yang diharapkan mempunyai pengetahuan yang luas, manusiawi dan keduanya menyatu dalam pribadi yang serasi, selaras dan seimbang.
Kemampuan Dasar yang Perlu Dikembangkan
a. Mengamati (observasi)
Siswa diajak belajar mengenal fenomena alam yang ada di sekitar kita dengan seksama menggunakan alat indera.
b. Menghitung
Kemampuan dasar menghitung perlu dikembangkan sedini mungkin pada siswa, yaitu melalui pelajaran matematika.
c. Mengukur.
Keterampilan dasar mengukur berfungsi sebagai pembanding melalui hal-hal yang berkaitan dengan-konsep luas, cepat, tinggi-rendah, volume, berat dan panjang.
d. Mengklasifikasi.
Kemampuan mengklasifikasi adalah kemampuan atau keterampilan menggolong-golongkan sesuatu menurut ciri-ciri khusus, tujuan atau kepentingan tertentu, dan kemudian mengelompokkannya ke dalam bentuk, zat dan fungsinya. agaimana mengklasifikasikanjenis burung.
e. Menarik hubungan antara ruang dan waktu.
Hubungan ruang dan waktu adalah mencocokkan benda-benda sesuai dengan fungsinya, menggambarkan arah dan jarak, dan membuat urut-urutan kejadian dari suatu gerakan benda.
f. Merumuskan hipotesis
Merumuskan hipotesis merupakan keterampilan membuat perkiraan (prediksi) berdasarkan alasan logis atas suatu kejadian (fenomena) atau pengamatan.
g. Merencanakan penelitian atau melakukan eksperimen .
Merencanakan penelitian atau melakukan eksperimen adalah menguji atau mengetes gagasan-gagasan melalui penyelidikan praktis dalam rangka menguji hipotesis.
i. Mengendalikan variabel
Dalam setiap penelitian sering dijumpai faktor-faktor yang berpengaruh yang selalu harus dikontrol.
j. Menafsirkan data
Keterampilan menafsirkan atau menginterpretasikan data sangat penting dalam merumuskan manfaat selanjutnya.
k. Membuat kesimpulan sementara (inferensi)
Inferensi adalah keterampilan untuk memberikari kata sepakat yang sifatnya sementara. Kesimpulan dibuat berdasarkan informasi yang diperoleh dan berlaku sampai batas waktu tertentu.
l. Membuat prediksi (prakiraan)
Keterampilan ini dibutuhkan untuk menggunakan hasil belajar ke dalam situasi yang baru. Keterampilan ini dapat juga digunakan untuk memecahkan masalah dan menjelaskan suatu informasi atau peristiwa baru.
m. Menerapkan (aplikasi) .. .
Keterampilan ini adalah kemampuan untuk mengimplementasikan hasil belajar kedalam situasi yang baru.
n. Mengkomunikasikan
Menkomunikasikan adalah cara untuk menyampaikan hasil penemuan pada orang lain. Cara mengkomunikasikan tersebut dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan.
Sebagai kesimpulan, diyakini bahwa berbagai strategi pembelajaran yang digunakan oleh pengajar pada dasarnya diarahkan agar terjadi proses belajar mandiri dalam diri siswa. Narnun perlu diingat bahwa pendekatan yang baik belum tentu menghasilkan pembelajaran yang baik pula. Karena itu faktor pengajar sebagai manager dari suatu kegiatan pembelajaran di kelas sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran tersebut.
MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN
I.Pendekatan Pembelajaran Pemrosesan Informasi
Ada beberapa model yang termasuk ke dalam pendekatan pembelajaran pemrosesan informasi, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Model Berpikir Induktif, tokohnya adalah Hilda Taba;
2. Model Inquiry Training, tokohnya adalah Richard Suchman;
3. Model Scientific Inquiry, tokohnya adalah Joseph J. Schwab;
4. Model Perolehan Konsep, tokohnya adalah Jerome Brunner;
5.Model Pertumbuhan Kognitif tokohnya adalah Piaget, Freud, Irving Siel dan Kohlberg;
6. Model Advance Organizer, tokohnya adalah David Ausubel dan
7. Model Memory, tokohnya antara lain Harry Lorayne dan Jerry Lucas.
A. MODEL PEMBELAJARAN PEROLEHAN KONSEP (CONCEPT ATTAINMENT) ORIENTASI MODEL
Pendekatan pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan karya Jerome Brunner, Jacqueline Goodnow dan George Austin. Brunner, Goodnow dan Austin yakin bahwa lingkungan sekitar manusia beragam, dan sebagai manusia kita hams mampu membedakan, mengkategorikan dan menamakan semua itu. Kemampuan manusia dalam membedakan, mengelompokkan dan menama-kan sesuatu inilah yang menyebabkan munculnya sebuah konsep.
Pendekatan pembelajaran perolehan konsep adalah suatu pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa memahami suatu konsep tertentu. Pendekatan pembelajaran ini dapat diterapkan untuk semua umur, dari anak-anak sampai orang dewasa. Untuk taman kanak-kanak, tentunya, pendekatan ini dapat digunakan untuk memperkenalkan konsep yang sederhana. Misalnya konsep binatang, tumbuhan, dan lain-lain. Pendekatan ini, lebih tepat digunakan ketika penekanan pembelajaran lebih dititikberatkan pada mengenalkan konsep baru, melatih kemampuan berpikir induktif dan melatih berpikir analisis.
a. Prosedur Pembelajaran
Suatu konsep diperoleh melalui tiga tahap yaitu:
• Pertama adalah tahap kategorisasi, yaitu upaya mengkategorikan sesuatu yang sama atau tidak sesuai dengan konsep yang diperoleh.
• Masuk ketahap selanjutnya, setelah kategori yang tidak sesuai disingkirkan, dan kategori-kategori yang sesuai digabungkan sehingga membentuk suatu konsep (concept formation). Setelah itu, suatu konsep tertentu baru dapat disimpulkan.
• Tahap terakhir inilah yang dimaksud dengan perolehan konsep.
Melalui model ini, perolehan konsep didasarkan pada kondisi reseptif siswa dan sifatnya lebih langsung. Artinya guru lebih banyak memimpin.
Model ini terdiri dari tiga tahapan mengajar.
Pertama, guru menyajikan data kepada siswa.
Tahap kedua, siswa menguji perolehan konsep mereka.
Tahap ketiga, mengajak siswa untuk menganalisis/mendiskusikan strategi sampai mereka dapat memperoleh konsep tersebut.
b. Aplikasi
Model pembelajaran ini sangat sesuai digunakan untuk pembelajaran yang menekankan pada perolehan suatu konsep baru atau untuk mengajar cara berpikir induktif kepada siswa. Model ini juga relevan diterapkan untuk semua umur dan semua tingkatan kelas. Bagi anak-anak, konsep dan contohnya harus lebih sederhana dibandingkan untuk anak tingkatan kelas yang lebih tinggi. Terakhir, model ini juga dapat merupakan alat evaluasi yang efektif bagi guru untuk mengukur apakah ide-ide atau konsep-konsep penting yang baru saja diajarkan telah dikuasai oleh siswa atau tidak.
B. MODEL PEMBELAJARAN BERPIKIR INDUKTIF
A. Orientasi Model
Model pembelajaran ini merupakan karya besar Hilda Taba. Suatu strategi mengajar yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengolah informasi.
Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapat diajarkan;.
2. Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu. Dalam seting tersebut, mana siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep, yaitu (a) saling menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut, (b) menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang telah diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis, dan (c) memprediksi dan menjelaskan suatu fenomena tertentu. Guru, dalam hat ini, dapat membantu proses internalisasi dan konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut;
3.Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan (lawful). Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.

B. Prosedur Pembelajaran
Postulat yang diajukan Taba di atas menyatakan bahwa keterampilan berpikir harus diajarkan dengan menggunakan strategi khusus. Menurutnya, berpikir induktif melibatkan tiga tahapan dan karenanya ia mengembangkan tiga strategi cara mengajarkannya. Strategi pertama adalah pembentukan konsep (concept formation) sebagai strategi dasar, kediia, interpretasi data (data interpretation) dan ketiga adalah penerapan prinsip (application of principles).
 Strategi 1: Pembentukan Konsep
Tahapan pertama ini terdiri dari tiga langkah yaitu
1. mengidentifikasi data yang relevan dengan permasalahan,
2. mengelompokkan data atas dasar kesamaan karakteristik dan
3. membuat kategori serta memben label, pada kelompok-kelompok data yang memiliki kesamaan karakteristik.
 Strategi 2: Interpretasi Data
Strategi kedua ini merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat , dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.
 Strategi 3: Penerapan Prinsip
Strategi 3 merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda.. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomena baru.
C. Aplikasi
Model pembelajaran. ini ditujukan untuk membangun mental kognitif. Karenanya sangat sesuai untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Namun demikian, strategi ini .sangat membutuhkan banyak informasi yang harus digali oleh siswa. Kelebihan. lain dari model ini, walaupun sangat sesuai untuk “social study” tapi juga dapat digunakan untuk semua mata pelajaran, seperti sains, bahasa dan lain-lain. Satu hal lagi yang tak kalah penting, model ini juga secara tidak langsung dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.
C. MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING
A. Orientasi Model
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang tokoh yang bernama Suchman. Suchman meyakini bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Suchman untuk mendukung teori yang mendasari model pembelajaran ini:
1. Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya;
2. Mereka akan menyadari keingintahuan akan segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya tersebut;
3. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan/digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki siswa;
4. Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya kemampuan berpikir dan membantu siswa belajar tentang suatu ilmu yang senantiasa bersifat tentatif dan belajar menghargai penjelasan atau solusi altematif.
B. Prosedur Pembelajaran
Tujuan utama dari model ini adalah membuat siswa menjalani suatu proses tentang bagaimana pengetahuan diciptakan. Untuk mencapai tujuan ini, siswa dihadapkan pada sesuatu (masalah) yang misterius, belum diketahui, tetapi menarik. Namun, perlu diingat bahwa masalah, tersebut harus didasarkan pada suatu gagasan yang memang dapat ditemukan (discoverable ideas), bukan mengada-ada.
C. Aplikasi
Awalnya model pembelajaran ini digunakan untuk mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan alam, tapi dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Model ini sangat penting untuk mengem-bangkan nilai dan sikap yang sangat dibutuhkan agar siswa mampu berpikir ilmiah, seperti
1.keterampilan melakukan pengamatan, pengumpulan dan pengorganisasian data termasuk merumuskan dan menguji hipotesis serta menjelaskan fenomena,
2. kemandirian belajar,
3.keterampilan mengekspresikan
secara verbal,
4. kemampuan berpikir logis, dan
5. kesadaran bahwa ilmu bersifat dinamis dan tentatif.

II Pendekatan Pembelajaran Individu
A. MODEL PEMBELAJARAN PENGAJARAN TIDAK LANGSUNG (NON-DIREC¬TIVE
TEACHING)
A. Orientasi Model
Sebelumnya perlu disampaikan disini bahwa yang dimaksud dengan non-direktif adalah TANPA MENGGURUI. Model pengajaran non-direktif merupakan hasil karya Carl Roger dan tokoh lain pengembang konseling non-direktif.
Peran guru dalam model pembelajaran ini adalah sebagai fasilitator. Karena itu guru hendaknya mempunyai hubungan pribadi yang positif dengan siswanya, yaitu sebagai pembimbing bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam menjalankan perannya ini, guru membantu siswa menggali ide/gagasan tentang kehidupannya, lingkungan sekolahnya dan hubungannya dengan orang-orang lain.
B. Prosedur Pembelajaran
Teknik utama dalam mengaplikasikan model pembelajaran pengajaran tidak langsung adalah apa yang diistilahkan oleh Roger sebagai Non-directive Interview atau wawancara tanpa menggurui, yaitu wawancara tatap muka antara guru dan siswa. Selama wawancara, guru berperan sebagai kolaborator dalam proses penggalian jati diri dan pemecahan masalah siswa. Inilah yang dimaksud dengan tanpa menggurui non-directive.
Kunci utama keberhasilan dalam menerapkan model ini adalah kemitraan antara guru dan siswa. Menurut Rogers, iklim wawancara yang dilakukan oleh guru harus memenuhi empat syarat yaitu:
(1) guru harus mampu menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa dan memperlakukannya sebagaimana layaknya manusia,
(2) guru harus mampu membuat siswa dapat mengekspresikan perasaanya tanpa tekanan dengan cara tidak memberikan penilaian (mencap salah atau mencap buruk),
(3) siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaanya, dan
(4) proses konseling (wawancara)
harus bebas dari tekanan;
Secara umum, sebagaimana halnya model pembelajaran lain, model pembelajaran ini juga memiliki tahapan-tahapan.
C. Aplikasi
Model Pembelajaran Pengajaran Tidak Langsung (tanpa menggurui) bisa digunakan untuk berbagai situasi masalah, baik masalah pribadi, sosial dan akademik. Dalam masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya. Dalam masalah sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain dan menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang kompetensi dan minatnya. Dari semua kasus di atas, esensi atau muatan wawancara hams bersifat personal, bukan eksternal. Artinya harus datang dari perasaan, pengalaman, pemahaman dan solusi yang dipilihnya sendiri. Inilah inti dari istilah Tidak Menggurui (Non-Directive) yang dimaksud oleh Rogers.

B. MODEL PEMBELAJARAN PELATIHAN KESADARAN (AWARENESS TRAINING)
A. Orientasi Model
Model ini mempakan suatu model pembelajaran yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran manusia. Model ini dikembangkan oleh Milliam Schutz. la menekankan pentingnya pelatihan interpersonal sebagai sarana peningkatan kesadaran pribadi (pemahaman diri individu).
Mengapa demikian? Karena ia percaya bahwa ada empat tipe perkembangan yang dibutuhkan untuk merealisasikan potensi individu secara utuh, yaitu:
(1) fungsi tubuh,
(2) fungsi personal, termasuk di dalamnya akuisisi pengetahuan dan pengalaman, kemampuan berpikir logis dan kreatif dan integrasi intelektual,
(3) perkembangan interpersonal dan
(4) hubungan individu dengan institusi-institusi sosial, organisasi sosial dan budaya masyarakat.
B. Prosedur Pembelajaran
Kunci utama prosedur pembelajaran model ini didasarkan atas teori encounter. Teori ini menjelaskan metode untuk meningkatkan kesadaran hubungan antar-manusia yang didasarkan atas keterbukaan, kejujuran, kesadaran diri, tanggung jawab, perhatian terhadap perasaan diri sendiri atau orang lain, dan berorientasi pada kondisi saat ini.
C. Aplikasi
Sampai saat ini, masih sangat sedikit sekolah atau guru yang menerapkan model ini. Permainan-permainan sederhana dapat dilakukan untuk keperiuan ini. Model ini juga dapat dilakukan sebagai selingan yang tidak memakan waktu terlalu banyak. Dalam pelaksanaan diskusi, keterbukaan dan kejujuran menjadi sangat penting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini dapat meningkatkan perkembangan emosi.

C. MODEL PEMBELAJARAN PERTEMUAN KELAS
A. Orientasi Model
Model ini diciptakan berdasarkan terapi realitas yang dipelopori oleh William Glasser. Glasser percaya bahwa permasalahan manusia kebanyakan disebabkan oleh kegagalan memfungsikan diri dalam lingkungan sosialnya (kegagalan fungsi sosial). Ia percaya bahwa setiap manusia mempunyai dua kebutuhan dasar yaitu cinta dan harga diri.
B. Prosedur Pembelajaran
Model pertemuan (diskusi) kelas terdiri atas enam tahap, yaitu (1) menciptakan ikiim (suasana) yang kondusif, (2) menyampaikan permasalahan diskusi, (3) membuat penilaian pribadi, (4) mengidentifikasi alternatif tindakan solusi, (5) membuat komitmen, dan (6) merencanakan tindak lanjut tindakan.
C. Strategi Pembelajaran
Guru membuat komitmen bersama untuk melaksanakan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Bila perlu membuat aturan bersama berikut sanksi bag yang melanggarnya. Pada pertemuan berikutnya, setelah langkah-langkah yang disepakat dilaksanakan guru mengevaluasi efektivitas pelaksanan tersebut.
D. Aplikasi
Model pertemuan kelas ini dapat dilakukan maksimal tiga kali dalam sehari. Tapi, biasanya sekali sehari sudah cukup tergantung dari permasalahan yang dihadapi.

III. Model Pendekatan Pembelajaran Sosial

A. MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN
A. Orientasi Model
Model ini dibuat berdasarkan asumsi bahwa sangatlah mungkin menciptakan analogi otentik ke dalam suatu situasi permasalahan kehidupan nyata. Kedua adalah bahwa bermain peran dapat mendorong siswa mengekspresikan perasaannya dan bahkan lepaskan. Ketiga adalah bahwa proses psikologis melibatkan sikap, nilai dan keyakinan (belief) kita serta mengarahkan pada kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai analisis. Model int dipelopori oleh George Shaftel.
Dalam kehidupan nyata, setiap orang mempunyai cara yang unik dalam cara berhubungan dengan orang lain. Masing-masing orang dalam kehidupannya memainkan sesuatu yang dinamakan peran. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain (masyarakat) sangatlah penting bagi kita untuk menyadari peran dan bagaimana peran tersebut dilakukan. Untuk kebutuhan ini, kita hams mampu menempatkan diri kita dalam posisi atau situasi orang lain dan mengalami/mendalami sebanyak mungkin pikiran dan perasaan orang lain tersebut. Kemampuan ini adalah kunci bagi setiap individu untuk dapat memahami dirinya dan orang lain yang pada akhimya dapat berhubungan dengan orang lain (masyarakat).
Bermain peran sebagai suatu model pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri (jati diri) di dalam dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Artinya, melalui bermain peran siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan perilaku orang lain. Proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk
1. menggali perasaannya,
2. memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengamh terhadap sikap, nilai dan persepsinya,
3. mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah, dan
4. mendalami mata pelajaran dengan berbagai cara.
Dengan demikian, pada siswa terjun ke masyarakat kelak ia dapat menempatkan diri dalam suatu situasi di mana begitu banyak peran terjadi. Seperti dalam Hngkungan keluarga, bertetangga, Ungkungan kerja dan lain-lain.
B. Prosedur Pembelajaran
Keberhasilan model pembelajaran melalui bermain peran tergantung pada kualitas permainan peran (enacment) yang diikuti dengan analisis terhadapnya. Di samping itu, tergantung pada persepsi siswa tentang peran yang dimainkan terhadap situasi nyata (real-life situation).
Prosedur bermain peran terdiri atas sembilan langkah yaitu, (1) pemanasan (warming up), (2) memilih partisipan, (3) menyiapkan pengamat (observer), (4) menata panggung (5) me-mainkan peran (manggung), (6) diskusi dan evaluasi, (7) memainkan peran ulang (manggung ulang), (8) diskusi dan evaluasi kedua, dan (9) berbagai pengalaman dan kesimpulan.
C. Aplikasi
Melalui permainan perari, siswa dapat meningkatkan kemampuan untuk mengenal perasaan dirinya sendiri dan perasaan orang lain, mereka memperoleh cara berperilaku barn untuk mengatasi situasi masalah seperti dalam permainan perannya dan dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah.

B. MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI SOSIAL
A. Orientasi Model
Simulasi telah diterapkan dalam pendidikan saja lebih dari tiga puluh tahun. Pelopomya di antaranya adalah Sarene Boocock dan Harold Guetzkow, walau model simulasi bukan berasal dari disiplin ilmu pendidikan. Tapi merupakan penerapan dari prinsip cybernetic, suatu cabang dari psikologi cybernetic adalah suatu studi perbandingan antara mekanisme kontrol manusia (biologis) dengan sistem elektromekanik, seperti komputer. Jadi, berdasarkan teori sibernetika, ahli psikologi menganalogikan mekanisme kerja manusia seperti mekanisme mesin elektronik. Menganggap siswa (pembelajar) sebagai suatu sistem yang apat mengendalikan umpan balik sendiri (self regulated feedback). Sistem kendali umpan balik ini, baik pada manusia atau mesin (seperti komputer) mempunyai tiga fangsi, (1) menghasilkan gerakan/tindakan sistem terhadap target yang diinginkan (untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan), (2) membandingkan dampak dari tindakannya tersebut apakah sesuai atau tidak dengan jalur/rencana yang seharusnya (mendeteksi kesalahan), dan (3) memanfaatkan kesalahan (error) untuk mengarahkan kembali ke arah/jalur yang seharusnya.
B. Prosedur Pembelajaran
Proses simulasi tergantung pada peran guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang harus dipegang oleh fasilitator/guru.
1. Pertama adalah penjelasan.
Untuk melakukan simulasi pemain harus benar-benar memahami aturan main.
Oleh karena itu, guru/fasilitator hendaknya memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya tentang aktivitas yang harus dilakukan berikut konsekuensi-konsekuensinya.
2.Kedua adalah mengawasi (refereeing).
Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur main tertentu. Oleh karena itu guru/fasilitator harus mengawas jalannyasimulasi sehingga berjalan sebagaimana seharusnya.
3. Ketiga adalah melatih (coaching).
Dalam simulasi, pemain/peserta akan mengalami kesalahan. Oleh karena itu guru/fasilitator harus memberikan saran, petunjuk atau arahan sehingga memungkinkan mereka tidak melakukan kesalahan yang, sama. Dan keempat adalah diskusi.
C. Aplikasi
Permainan simulasi dapat merangsang berbagai bentuk belajar, seperti belajar tentang persaingan (kompetisi), kerja sama, empati, sistem sosial, konsep, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan dan lain-lain. Namun demikian, model simulasi agak berbeda dengan model-model lain. Model ini agak rumit, ergantung pada pengembangan simulasi yang tepat, baik yang melibatkan peneliti, pengembang, (sistem analis, programer dan lain-lain), perusahaan komersial, guru atau kelompok guru dan lain-lain. Dewasa ini, dengan semakin majunya teknologi komunikasi dan informasi, seperti komputer dan multimedia, telah banyak permainan simulasi dihasilkan untuk berbagai kebutuhan yang mencakup berbagai topik dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran)

D. MODEL PEMBELAJARAN TELAAH YURISPRUDENSI (JURISPRUDENTIAL INQUIRY)
A. Orientasi Model
Model pembelajaran yang dipelopori oleh Donald Oliver dan James P. Shaver ini didasarkan atas pemahaman masyarakat di mana setiap orang berbeda pandangan dan prioritas satu sama lain, di mana nilai-nilai sosialnya saling berkonfrontasi satu sama lain. Memecahkan masalah kompleks dan kontroversial di dalam konteks aturan sosial yang produktif membutuhkan warga negara yang mampu berbicara satu sama lain dan bernegosiasi tentang keberbedaan tersebut.
B. Prosedur Pembelajaran
Biasanya, kunci utama keberhasilan model ini adalah melalui Metode Dialog Sokrates (debat konfrontatif). Langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi enam langkah yaitu, (1) orientasi terhadap kasus (2) mengidentifikasi isu (3) pengambilan posisi (sikap), (4) menggali argumentasi untuk mendukung posisi (sikap) yang telah diambil (5) memperjelas ulang dan memperkuat posisi (sikap), dan (6) menguji asumsi tentang fakta, definisi, dan konsekuensi.
C. Aplikasi.
Model ini diracang untuk siswa SLTP ke atas. Bagi siswa yang kelasnya lebih rendah harus dimodifikasi sedemikian mpa sehingga memungkinkan terjadi perdebatan kritis yang seru. Perdebatan kritis pada awalnya sangat menakutkan bagi siswa, terutama bagi mereka yang pendiam. Untuk mengatasi hal ini, guru sebaiknya tidak melakukan perdebatan dengan dirinya. Sebaiknya siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan saling berargumentasi mempertahankan sikap masing-masing terhadap isu-isu sosial yang sedang dibahas.

PROSEDUR PEMBELAJARAN

A. HAKIKAT PROSEDUR PEMBELAJARAN
Seperti telah diketahui bahwa strategi pembelajaran adalah suatu pola umum yang dapat menggambarkan kegiatan guru dan peserta didik di dalam pembelajaran. Pengertian strategi dalam hal ini menunjukkan pada karakteristik abstrak dari serangkaian kegiatan mengajar dan peserta didik didalam peristiwa pembelajaran sedangkan serangkaian kegiatan pengajar dan peserta didik dalam proses pembelajaran secara aktual tertentu dinamakan prosedur pembe¬lajaran.
Dalam suatu kegiatan pembelajaran seorang guru, dapat saja memilih satu atau beberapa model pembelajaran yang paling sesuai dan efektif dalam mencapai tujuan. Tentunya harus diarahkan pada penciptaan sistem lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat berperan aktifsepanjang proses pembelajaran berlangsung.
Contoh berikut adalah prosedur pembelajaran dengan menggunakan prinsip CBSA. Sebagai proses pembelajaran, CBSA adalah penyediaan kondisi untuk pembelajaran peserta didik, sebagai berikut;
1. Pengaturan pengajar dan peserta didik
Pengaturan pengajar dapat dibedakan berdasarkan pemberian proses pembelajaran apakah diberikan oleh satu orang guru atau tim pengajar. Sedangkan, pengaturan hubungan antara pengajar dan peserta didik dapat dibedakan berdasarkan hubungan, tatap muka atau dengan perantaraan media; pembelajaran diberikan secara pembelajaran klasikal (kelompok besar), kelompok kecil (5-7 orang) atau pembelajaran individual.
2. Struktur peristiwa saat proses pembelajaran berlangsung
Strukturnya dapat bersifat tertntup, dalam anti segala sesuatu telah ditentukan sebelumnya secara relatif ketat, atau dapat juga bersifat terbuka, dalam arti tujuan pembelajaran, materi, serta prosedur yang akan ditempuh untuk mencapainya ditentukan, pada proses pembelajaran yang berlangsung.
3. Perencanaan guru dan peserta didik dalam mengolah pesan
Dapat bersifat ekspositorik artinya guru yang menyampaikan pesan dalam keadaan “telah siap” atau telah diolah secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan. Atau dapat pula bersifat heuristik di mana peserta didik harus mengolah pesan-pesan yang akan dipelajarinya. Terdapat dua strategi di dalam strategi heuristik yang belakangan ini sering dikemukakan beberapa ahli, yaitu penemuan (discovery) dan mencari (inquiry).
4. Proses Pengolahan Pesan
Terdapat 2 cara dalam proses pengolahan pesan yang pertama bersifat deduktif di mana peristiwa pembelajaran yang bertolak dari umum untuk dilihat keberlakuannya dan berakibat pada yang khusus. Dan yang kedua, bersifat induktif, yang ditandai oleh proses berpikir yang bergerak dari khusus ke umum.
5. Tujuan Belajar
Gagne dalam Hasibuan dan Moedjiono (1993) mengelompokkan kondisi-kondisi belajar (sistem !ingkungan belajar) sesuai dengan tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai.

Terdapat 5 (lima) macam kemampuan individu yang merupakan hasil belajar sehingga pada gilirannya membutuhkan berbagai macam kondisi belajar untuk pencapaian kelima macam kemampuan hasil belajar tersebut yaitu:
a. Kemampuan Intelektual
b. Strategi Kognitif
c. Informasi Verbal’
d. Keterampilan Motorik,
e. Sikap dan Nilai
Guru yang efektif adalah mereka yang mampu membimbing peserta didiknya dengan berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran. Untuk menilai efektivitas mengajar ada dua tolok ukur, yaitu tercapainya tujuan pembelajaran dan hasil belajar peserta didik yang tinggi.
Untuk mencapai tingkat efektivitas mengajar yang tinggi setiap pengajar harus menguasai benar semua prosedur pembelajaran yang secara langsung akan mempengaruhi proses pembelajaran itu sendiri.
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diketahui dan kemudian diterapkan sebelum prosedur pembelajaran tatap muka berlangsung, yaitu:
1. Keterlibatan peserta didik secara langsung
2. Individualisme
3. Pemindahan dalam belajar (transfer of learning)
4. Keseluruhan/kesatuan
5. Bimbingan
6. Respon-respon baru
7. Kondisi lingkungan belajar
8. Generalisasi dan diskriminasi
9. Kualitas penanipilan
10. Prinsip persiapan dalam belajar
B. PEMILIHAN DAN PENYUSUNAN PROSEDUR PEMBELAJARAN
Prosedur pembelajaran adalah langkah yang menggambarkan urutan-urutan pengajaran mulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan valuasi. Untuk keberhasilan pengajaran guru harus memahami semua langkah yang harus ditempuhnya sebaik mungkin. Secara garis besar langkah-langkah itu terdiri dari:
1. Perencanaan program pembelajaran meliputi perumusan tujuan, materi pelajaran, kegiatan belajar mengajar, media sumber belajar, dan sumber evaluasi.
2. Persiapan pembelajaran sebelum dimulainya pelajaran, meliputi kegiatan membaca kembali satuan pelajaran yang telah dibuatnya, mengecek semua alat dan media yang digunakan.
3. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan dalam membuka pelajaran, kegiatan inti dalam menyajikan bahan pelajaran dan menutup pelajaran.
4. Kegiatan memberikan penilaian meliputi kegiatan mempersiapkan tes, melaksanakannya dan terakhir mengolah hasil tes untuk memperoleh angka atau nilai yang akan dikonversikan ke dalam skala nilai yang berlaku.
C. ORGANISASI KEGIATAN PEMBELAJARAN
Sehubungan dengan prosedur pembelajaran yang akan dilaksanakan maka terdapat beberapa aspek yang perlu diorganisasikan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran yang akan dilaksanakannya, sebagai berikut.
1. Tujuan yang ingin dicapai
2. Cakupan dan Urutan
3. Prosedur penyampaian materi
Prosedur dalam penyampaian materi pelajaran:
– Preporasi
– Appersepsi
– Presentasi
– Resitasi
4. Metode Mengajar
Menurut Kemp (1988) terdapat 3 pola yang merupakan metode dasar, yaitu:
a. Ekspositori
Berupa penjelasan, penguraian atau penggambaran sesuatu hal. Dalam ekspositori terkandung pengertian satu arah, yaitu dari guru ke peserta dan guru secara aktif menyajikan pelajaran, sedangkan peserta cenderung pasif mendengarkan atau memper-hatikan saja.
b. Belajar Mandiri
Peserta diharapkan dapat mempelajari sendiri bahan yang telah disusun menurut program pembelajaran yang telah disiapkan, dengan menggunakan bahan ajar berupa modul.
c. Interaksi Guru – Peserta
Pada pola ini guru dan peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian berdiskusi dan menyusun laporan. Dalam interaksi ini memungkinkan adanya saling belajar satu dengan lainnya. Pola ini sangat cocok diterapkan pada proses pembelajaran orang dewasa (androgogi).
5. Media atau alat peraga
6. Sumber Belajar
7. Evaluasi Proses Pembelajaran
D. URUTAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
Gagne dan Briggs dalam Wiryawan dan Noorhadi (1990) mengemukakan urutan kegiatan pembelajaran tersebut
a.Mengarahkan perhatian peserta .
b.Memberitahukan tujuan yang akan dicapai
c.Menimbulkan ingatan tentang kemampuan atau pengetahuan yang dipersyaratkan yang telah dipelajari.
d.Menyampaikan materi peiajaran yang dijadikan rangsangan
e.Memberikan petunjuk atau tuntutan dalam kegiatan belajar
f. Memancing penampilan peserta
g. Memberikan Umpan Balik (feed back)
h. Menilai penampilan atau hasil belajar
i. Mentransfer hasil belajar
E. KOMPONEN PROSEDUR PEMBELAJARAN
Dari urutan kegiatan pembelajaran tersebut di atas, pada dasarnya terdapat 3 (tiga) komponen yang lazim dilaksanakan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, yaitu komponen pendahuluan, komponen penyajian/inti, dan komponen penutup.
1. Komponen Pendahuluan
Adalah kegiatan pembelajaran yang berupa kegiatan menumbuhkan motivasi, menginfor-masikan dan menyadarkan akan tujuan belajar dan kegiatan untuk mengarahkan perhatian peserta didik.
2. Komponen Penyajian/Inti
Komponen penyajian adalah kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdiri dari kegiatan penyampaian informasi, membantu menggali informasi dari ingatan, dan mendampingi peserta didik selama mengerjakan latihan yang diberikan. Pada komponen inilah pengajar menjelaskan/ menguraikan materi yang harus dipelajari, memberi contoh-contoh yang relevan dan memberi kesempatan untuk menampilkan kemampuan peserta didik dalam latihan.
3. Komponen Penutup
Adalah kegiatan pembelajaran secara tetap pengajar menerapkan urutan kegiatan pembelajaran berupa pemberian tes formatif, umpan batik dan kegiatan tindak lanjut (Follow Up)
Adapun, aktualisasi dari kegiatan pembelajaran pada komponen ini, sebagai berikut:
a. Tes Formatif
b. Umpan balik
c. Tindak lanjut
Selain hal tersebut di atas, keputusan dalam menentukan prosedur pembelajaran yang akan ditetapkan ditentukan pada oleh model pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran..
Di bawah ini akan dijelaskan tentang 4 model yang dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Weil dalam Hasibuan (1988). Diharapkan melalui sajian berikut pengajar dapat mempertimbangkan berbagai hal ketika harus memilih model yang tepat sesuai dengan tujuan dan bentuk belajar dari peserta didik.
1. Rumpun model interaksi sosial, meliputi
a. Pengajaran dengan
Model Jurisprudensial
b. Kerja Kelompok
c. Inkuari Sosial
d. Metode Laboratorium
2. Rumpun Model pengolah Informasi, meliputi.
a. Mengajar Induktif
b. Latihan Inkuari
c. Inkuari dalam IPA
d. Pembentukan Konsep
e. Model Pengembangan / Advance Organizer
3. Rumpun Model Personal Humanistik, meliputi
a. Pengajaran non induktif
b. Pertemuan kelas
c. Latihan kesadaran
d. Model sinetik, dan
e. Model sistem konseptualOrientasi Model:
f. Berorientasi pada perkembangan individu
g. Penekanannya lebih diutamakan pada proses yang membantu individu dalam membentuk dan mengorganisasikan realita yang kompleks.
h. kehidupan emosional peserta didik sangat diperhatikan dengan demikian pembelajaran lebih bersifat membantu peserta didik dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya.
i. Keberadaan peserta didik dalam kelompok akan banyak memiliki arti untuk mengenal dirinya seagai pribadi sehingga dapat menghasilkan hubungan interpersonal yang cukup tinggi.
4. Rumpun model modifikasi tingkah laku, yang berupa operan conditioning (B.F Skiner)
Model ini menekankan pemanipulasian/penguatan tingkah laku (reinforcement).
Orientasi Model
a. Adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang kecil-kecil dan berurutan.
b. Pembelajaran pada dasarnya adalah mengusahakan terjadinya perubahan dalam perilaku peserta didik dan perubahan perilaku tersebut haruslah dapat diamati secara jelas.
POLA BELAJAR
Pola-pola kegiatan belajar-mengajar mempakan dasar di dalam memilih strategi pembe-lajaran dan untuk diterapkan dalam prosedur pembelajaran. Dalam hal ini menurut Ely (1979) pada dasarnya ada tiga macam dasar kegiatan pembelajaran ditinjau dari segi jumlah peserta yang belajar.
1. Pengajaran untuk grup besar (large group instruction) Pola ini diikuti oleh lebih dari 30 orang
2. Pengajaran untuk grup kecil (small group instruction} Pola ini diikuti oleh 5-15 siswa.
3. Pengajaran secara individual (individuallized instruction) Pola ini diikuti oleh 1 – 3 orang.
Sementara itu Kemp (1977) juga mengemukakan adanya tiga macam pola kegiatan pembe¬lajaran, namun segi peninjauannya berbeda dengan pendapat tersebut di atas.
Tiga macam pola kegiatan belajar-mengajar menurut Kemp adalah sebagai berikut:
1. Presentasi (presentation); di sini guru menyampaikan informasi kepada peserta dengan cara ceramah (lecturing), berbicara secara informal, menulis di papan tulis, menunjukkan sesuatu dengan memakai alat bantu seperti film, radio, menunjukkan benda asli atau tiruannya dan sebagainya.
2. Studi independen (independent study); peserta bekerja sendiri misalnya dengan membaca buku, memecahkan masalah, menulis laporan menggunakan laboratorium, perpustakaan, mendengarkan radio, melihat televisi dan sebagainya.
3. Interaksi guru-peserta (teacher – student interaction). Guru dan peserta bekerja bersama dalam kelompok-kelompok kecil, diskusi, tanya jawab, mengerjakan proyek tertentu, menulis laporan, dan sebagainya.
B. INTERAKSI EDUKATIF
Interaksi edukatif yang terjadi sepanjang proses pembelajaran dapat berlangsung dalam berbagai berituk kegiatan pembelajaran. Berikut akan dijabarkan berbagai benyuk kegiatan interaksi edukatif berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan.
1. Pemberian informasi melalui metode ceramah
Metode ceramah ini sebuah bentuk interaksi melalui penerangan, secara lisan oleh pengajar terhadap sekelompok peserta. Dalam pelaksanaarmya guru dapat dibantu dengan menggunakan media-media pembantu untuk menjelaskan pelajaran.
2. Membuka dialog melalui tanyajawab
Sebagai bentuk interaksi edukatif metode tanya jawab dapat digunakan apabila dalam interaksi belajar mengajar, guru mempunyai maksud :
a. menciptakan terjadinya interaksi antara materi pelajaran yang sudah diperolehnya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
b. mendorong siswa untuk ikut aktif dalam kegiatan belajar mengajar hingga perhatian siswa tetap terpusat pada materi yang diajarkan.
Dibandingkan metode ceramah, metode tanya jawab akan mampu menghasilkan interaksi yang lebih aktif karena siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan hal-hal yang belum dimengerti sehingga nampak siswa yang sudah mengerti dan belum.
3. Mencari alternatif melalui metode diskusi
Metode interaksi melalui diskusi ini dimaksudkan, bahwa dalam pemecahan suatu masalah diperlukan macam-macam pemikiran dalam mencari jalan yang terbaik, adanya kerja ^ama dan musyawarah, dan juga diskusi menghasilkan suatu keputusan yang periu dikerjakan, maka harus dikerjakan bersama-sama pula.
4. Meningkatkan keterampilan melalui latihan
Mengadakan interaksi melalui latihan untuk meningkatkan keterampilan yang dimaksudkan, dengan latihan berkali-kali atau terus menerus terhadap apa yang dipelajari dapat diperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan yang sempurna.
5. Mengalami melalui demonstrasi dan eksperimen
Metode interaksi belajar mengajar ini, sangat efektif untuk membantu para siswa memecahkan suatu persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan “bagaimana prosesnya?” terdiri dari unsur apa, pengamatan induktif. Dengan melaksanakan demonstrasi, siswa akan berpatisipasi aktif untuk memperhatikan proses terjadinya sesuatu. Perhatian diharapkan kepada hal yang dianggap penting hingga diperhatikan sepenuhnya oleh siswa.
6. Menguji kemahiran melalui pelaksanaan tugas
Metode pelaksanaan tugas dilakukan untuk menguji kemahiran atau kemampuan siswa dalam melaksanakan tugas belajar dan kemudian mampu mempertanggungjawabkannya. Metode pelaksanaan tugas ini dilakukan dengan tujuan merangsang siswa berusaha lebih baik, maupun berinisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri melalui kegiatan kokurikuler maupun kokulikuler. Keberhasilan metode ini dipengaruhi oleh:
1) jelas tidaknya aspek-aspek yang dipelajari siswa.
2) apakah tugas yang diberikan didasarkan atas perbedaan individual atau tidak, sebabnya tugas yang diberikan secara umum akan menyulitkan siswa dalam penyesuaian.
7. Memperluas wawasan melalui karyawisata
Dengan bimbingan guru, siswa mengunjungi tempat tertentu dengan maksud untuk belajar. Interaksi belajar-mengajar ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan pada siswa mengamati kenyataan yang secara langsung sehingga dapat menghayati pengalaman-pengalaman barn dengan mencoba ikut serta dalam suatu kegiatan.
8. Memupuk kegotongroyongan melalui kerja kelompok
Mengadakan interaksi edukatif melalui kerja kelompok ini untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang dilakukan secara gotong royong, kelompok di sini dipandang sebagai satu kesatuan sendiri, dan siswa yang menjadi anggota kelompok tersebut diikat oleh aturan-aturan kelompok yang sudah disepakati bersama.
Koumunikasi Antar Pribadi
Tujuan kegiatan ini adalah agar pesan yang disampaikan guru dapat diterima dan dipahami siswa. Dalam bentuk interaksi edukatif, tujuan interaksi antarpribadi adalah agar pesan yang disampaikan dapat menimbulkan rangsangan terjadinya proses timbal balik antara guru dengan siswa. Upaya tersebut antara lain:
a. Interest
Interest adalah usaha yang dilakukan guru untuk menarik atau membawa perhatian siswa pada materi pelajaran yang baru.
b. TitikPusat
Titik pusat adalah kegiatan guru menguraikan materi dan diuraikan terpusat pada bahasan yang sedang dipelajari bersama. Dalam hal ini guru sering tergiring ke arah pembicaraan di luar pembicaraan pokok, karena adanya pertanyaan siswa yang tidak relevan dengan bahasan.
c. Rantai Kognitif
Rantai kognitif adalah urutan atau sistematika dalam menyampaikan bahasa pelajaran. Hal ini dapat dilihat dari persiapan mengajar dan cara guru menyampaikan pelajaran. Agar rantai kognitif tersusun baik maka dapat ditempuh dengan cara mempersiapkan skema atau bagan tentang materi yang digunakan tersebut.
d. Kontak
Kontak adalah hubungan batiniah antara guru dan siswa dalam kaitannya dengan materi yang sedang dibahas bersama.
a. Komunikasi Edukatif
Seorang guru harus mempunyai kemampuan dan kepandaian dalam berkomunikasi. Adanya suatu prinsip-prinsip komunikasi dalam suatu kelas dapat dibedakan menjadi tiga kategori di antaranya adalah:
a. Sifat Individu
Mempertinggi hubungan yang baik dengan siswanya dengan membina sikap yang baik kepada semua siswa. Sikap yang baik dan kepercayaan yang kuat merupakan hal yang penting jika guru dan siswa dapat menciptakan suatu komunikasi yang baik dalam situasi belajar.
Sifat yang bijaksana dari seorang guru adalah menjadi seorang pendengar yang aktif. Siswa akan merespon kepada seorang guru di mana guru dapat mendengarkan dengan baik terhadap apa yang ingin disampaikan oleh siswa.
b. Penggunaan kepandaian berkomunikasi
Komunikasi akan lebih efektif ketika gum menggunakan contoh yang berkaitan dengan kehidupan siswanya, seperti cita-cita, pengalaman, gaya hidup.
c. Pengembangan komunikasi di antara siswa
Komunikasi kelas harus diarahkan kepada pembelajaran yang berguna. Pinnell dan Jagger (1991) memberikan penilaian pentingnya pengembangan keterampilan berbicara dan mendengar di kelas.

Sumber : http://ndhiroszt.multiply.com/